Langsung ke konten utama


PENGARUH SOSIAL BUDAYA PENCIPTAAN DRAMA
Teori Pertentangan Klas dari Marxisime

        Tulisan Nur Sahid yang berjudul Pengaruh Sosial Budaya Penciptaan Drama: Teori Pertentangan Klas dari Marxime ini berulangkali saya baca, karena saya suka dan tertarik dengan cara mengaitkan persoalan penciptaan drama dengan teori pertentang klas dari Marxisme. Itu sebabnya saya menghaturkan salam hormat kepada Prof. Dr. Nur Sahid dan mohon ijin karena memberanikan diri memposting di madia sosial. Lagi pula pemikiran-pemikiran dalam tulisan tersebut saya gunakan sebagai bahan ajar pada semester 6 mahasiswa Program Studi Teater Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta untuk mata kuliah Kajian Teater Modern.


        Marxisme dalam kaitannya dengan teater yang dikembangkan oleh Taine menganggap, bahwa karya seni dapat dilihat dari ras, waktu, dan lingkungan (dalam Junus, 1986:19).  Ras dapat dihubungankan dengan sifat kejiwaan turun-temurun, perasaan, dan bentuk tubuh. Ketika menyimak lakon “Bila Malam Bertambah Malam” karya Putu Wijaya, terasa sekali suasana Bali hadir dalam pertunjukan. Pengungkapan perasaan tokoh Nyoman sebagai pembantu, Gusti Biang selaku kaum bangsawan.  Di antara keduanya terjadi perbedaan status sosial yang bersifat khas, berbeda dengan ras lainnya (Sahid, 1992:130).
         Waktu yang dimaksud adalah jiwa suatu jaman. Lakon yang ditulis pada tahun 40-an berbeda dengan dengan tahun 60-an. Tahun 40-an dekat dengan masa revolusi, sehingga drama-drama saat itu dipengaruhi semangat perjuangan. Drama-drama Usmar Ismail seperti Citra, Api, dan Liburan seniman menampilkan suasana revolusi. Pada era 60-an yang berhadapan dengan Masa Orde Lama dan PKI berserta ormas-ormasnya, maka banyak seniman teater Muslim menciptakan lakon-lakon Dakwah (Sahid, 1994), seperti Junan Elmy Nasution menulis Lakon Iqra, Maulid, dan Dewi Masitoh. Mohammad Diponegoro menulis lakon Iblis yang terkenal sampai sekarang.
        Lingkungan yang dimaksud adalah tempat yang dibatasi oleh iklim (cuaca) dan geogarfi yang mempengaruhi pola prilaku sosial. Taine memberi contoh cerita-cerita dari Eropa Utara sering menampilkan suasana murung, duka cita, dan sebagainya, sedangkan di Eropa Selatan penuh dengan kegembiraan, karena Eropa Selatan mengalami musim panas yang panjang. Pendapat Taine dikritik oleh banyak pihak, karena tidak berdasarkan hasil reset dan tidak mengaitkan isi cerita dengan kebudayaan setempat, hanya mengaitkan pengaruh lingkungan alam.
        Menurut Marxisme pada abad 19 drama merupakan refeksi masyarakat dan pengaruhi kondisi sosial jaman. Pads setiap jaman terdapat pertentangan kelas. Karya drama pada hakekatnya menyuarakan suara kelas sosial tertentu, sehingga merupakan alat perjuangan kelas (Junus, 1986:20).
KESULITAN APLIKASI TEORI MARX
Tidak ada masyarakat tanpa kelas dan  struktur sosial tidak dapat disederhanakan,  seperti terdapat kelas buruh (pekerja kasar) dan majikan (pemilik modal) yang merupakan strktur kapitalis. Namun demikian  perbedaan kelas tidak bersifat kaku tetapi longgar, sehingga terdapat titik singgung dan saling melengkapi di antara buruh dan majikan. 
Sebenarnya masih ada kelas lain di luar kedua kelas itu, misalnya pegawai negeri sipil, pedagang kecil, dan sejenisnya. Pada tahun 60-an dan 70-an muncul kesadaran kelas lain, yaitu gerakan pembebasan kaum wanita (Women Lib’s) yang tidak terkait dengan terminologi Marx. Kompromi kelas atau pelompatan kelas kelas sosial mungkin lebih penting daripada pertentangan kelas. Kelas seseorang ditentukan oleh keberhasilan tingkat sosial ekonomi. Kondisi demikian juga berlaku bagi masyarakat Indonesia. Mereka yang menduduki golongan elite menengah dan elite atas sebagian besar berasal dari golongan bawah, seperti petani, nelayan, pedagang kecil dan sebagainya. Berkat pendidikan yang mereka tempuh memperoleh pekarjaan yang layak.  Dari sanalah status sosial mereka meningkat. Jika demikian, harus masuk kelas yang mana?
Bagi seorang penulis lakon, suara kelas mana yang harus disuarakan? Kelas bawah sebagai kelas asal-usul, atau kelas menengah, yakni kelas baru yang dimiliki dengan status pengarang. Namun yang pasti mereka tidak menyuarakan suara kelas asalnya atau kelas menengah, karena dia akan menyuarakan aspirasi seorang penulis lakon sebagai dunia tersendiri terlepas dari pertentangan kelas. Sebaliknya penulis di negara-negara komunis harus mendekatkan diri  kepada rakyat. Bagi mereka karya drama bukan lagi refleksi realitas, tetapi interpretasi dari realitas sesuai dengan ideologi penulis.
Pelompatan kelas dalam karya lakon dapat dilihat pada karya Putu Wijaya.  Tokoh Nyoman, semula adalah pembantu rumah tangga yang kemudian menjadi istri seorang bangsawan.  Jelas suatu perubahan kelas sosial. Demikian juga nasib Wayan, dari pembantu menjadi suami Gusti Biang, seorang perempuan ningrat.  Berbagai kasus yang ada dalam karya lakon adalah pelomptan kelas, seperti banyak terdapat dalam cerita kethoprak dan ludruk. Itu sebabnya, perinsip pertentangan kelas hanyalah ajaran komunis, bukan kenyataan sosial itu sendiri, tetapi suatu ideologi yang  ingin membentuk masyarakat baru.
Pertetangan kelas tidak akan ditemukan dalam setiap karya, kecuali ditulis oleh penganut teori pertentangan kelas (Junus, 1986:23). Banyak karya lakon yang tidak terkait dengan kelas, karena yang digarap penulis adalah masalah kemanusiaan dan manusia. Lakon Domba-domba Revolusi karya Bambang Soelarto menunjukan indikasi hal di atas. Jika kemungkinan terdapat unsur kelas, maka pengertian kelas itu begitu samar (Sahid, 2008:32-33).

Daftar Pustaka

Sahid, Nur. 2008. Sosiologi Teater. Yogyakarta: Prastista.
Junus, Umar. 1986. Sosiologi Sastra: Persoalan Teoari dan Metode. Dewan Bahasa dan Pustaka, Kementerian Pelajaran Malaysia, Kuala Lumpur).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kebenaran Hidup

Esensi penting dalam kehidupan ini perlu terus-menerus diulang agar kita tidak melupakannya. Kita membutuhkan pengingat untuk membantu kita fokus terhadap hal yang penting ini.  Huffingtonpost.com  merilis 10 kebenaran yang bisa mengubah hidup kita Murtana

RASA SENI

RASA SENI RARA SENI terkait dengan pengertian rasa seni itu sendiri terdapat dalam Natyasastra yang ditulis pada abad ke lima atau ke enam masehi (Hartoko, 1991:68).  Penulisnya bernama Bharata ysng hidup pada abad ke satu sampai abad ke empat Masehi (dalsm Suamba, 2005:224).  Buku ini disebut-sebut sebagai ensiklopedi India yang semula sebagai buku teoritis tentang drama, lalu digunakan pula untuk memahami seni yang lsin, termasuk sastra. Buku ini menarik terutama mengenai pengertian mendalam mengenai hal ihkwal batin manusia serta gelombang-gelombang emosi mulai dari kesadaran praktis sampai perenungan estetis.         Kata "rasa" berasal dari Bahasa Sanskerta, yaitu "ras" yang artinya merang, menangis, berteriak, bergema, dan berkumandang (Astra, 2001:384).  Dalam Bahasa Jawa Kuna kata rasa memiliki banyak arti.  1. Air (getah) tumbuh-tumbuhan, air sari buah, rasa. 2. Perasaan, pendapat, dan maksud.  3. Intisari, isi...