Langsung ke konten utama

RASA SENI


RASA SENI

RARA SENI terkait dengan pengertian rasa seni itu sendiri terdapat dalam Natyasastra yang ditulis pada abad ke lima atau ke enam masehi (Hartoko, 1991:68).  Penulisnya bernama Bharata ysng hidup pada abad ke satu sampai abad ke empat Masehi (dalsm Suamba, 2005:224).  Buku ini disebut-sebut sebagai ensiklopedi India yang semula sebagai buku teoritis tentang drama, lalu digunakan pula untuk memahami seni yang lsin, termasuk sastra. Buku ini menarik terutama mengenai pengertian mendalam mengenai hal ihkwal batin manusia serta gelombang-gelombang emosi mulai dari kesadaran praktis sampai perenungan estetis.  
      Kata "rasa" berasal dari Bahasa Sanskerta, yaitu "ras" yang artinya merang, menangis, berteriak, bergema, dan berkumandang (Astra, 2001:384).  Dalam Bahasa Jawa Kuna kata rasa memiliki banyak arti.  1. Air (getah) tumbuh-tumbuhan, air sari buah, rasa. 2. Perasaan, pendapat, dan maksud.  3. Intisari, isi (esensial), substansi, makna, pokok, dan arti.  4. Bsgsimana seterusnys ada disposisi atau kondisi nyata. 5. Berjata secara demikian, seolah-olah, dan seakan-akan.  6. Dalam bentuk/ jenis puisi atau karya tulis yang khas. 7. Air raksa (Zoetmulder, 1995:926 dalam Yasa, 2006:3).
      Dalam konteks budaya Bahasa Indonesia kata rasa mengacu pada maksud sebagai berikut.
1. Sesuatu yang dialami oleh lidah atau badan ketika terkena sesuatu.
2. Sifat suatu benda dam sebaginya yang mengadakan rasa.
3. Suatu yang dialami oleh hati atau batin ketika panca indra menangkap sesuatu.
4. Mempertimbangkan pikiran (hati) mengenai baik-buruk, benar-salah dan sebagainya, pendapat. 
5. Kira-kira, rupa-rupanya, dan barangkali (Purwadarminta, 1984:802;  Yasa: 2006:4).
      Arti dasar kata "rasa" adalah rasa, yakni yang dikecap lidah ketika orang menyantap makanan (Warder dalam Wiryamartana, 1990:355).  Rasa dalam arti sekera ini disebut pula "rasa bhoga", yaitu rasa makanan.  Ada enam jenis  rasa bhoga yang disebut "sad rasa".
1.  Lawana.   = asin.
2.  Amla.        = asam.
3.  Katuka.     = pedas.
4.  Kesaya.    = sepet.
5.  Madhura.  = manis.
6.  Tikta.         = pahit.
(Yasa, 2006:4.  Dalam buku Wraspati Tatwa hal.33.).  Selain itu, rasa juga dibangkitkan melalui kreatifatas seni pentas yang disebut " Rasa Bhawa", yakni rasa yang didapat penonton ketika menikmati drama, lukisan, patung dab seni lainnya yang dapat dilihat.  Rasa dalam seni musik dan suara disebut "Rasa Swara", rasa yang dinikmati instrumen musik, syair-syair dan lantunan suara lagu. Rasa dalam seni bahasa disebut " Rasa Bhasa (Kanwa, 35:3 dalam Yasa,2006:4). 
      Rasa dalam konteks seni berarti pengalaman estetik (Warder dalam Wiryamartana, 1990:355), yakni emosi yang dibangkitkan secara estetik oleh lingkungan dan situasi artistik (Dasgupta dalam Wiryamartana, 1990:355).
      Pengalaman estetik tersusun atas empat hal sebagai berikut.
1.  Objek, dalam proses berkreasi manusia (seniman) selalu mengalami sesuatu, karena tanpa objek tidak ada pengalaman apapun.
2.  Intuisi, yakni pengalaman langsung terhadap objek yang tidak berdasarkan kualitas kategori.
3.  Pengetahuan dan pengalaman estetik juga mensyaratkan pengetahuan nilai-nilai kategiri yang ideal, seperti keteraturan, kejelasan, dan kesempuranaan.
4.  Pengalaman. Melalui pengalamanlah seseorang memiliki kemampuan menempatkan suatu objek dalam konteks tertentu, sehingga objek tertentu menjadi bernilai estetik (Albert Camus dalam Sacari, 2002:24-25; Yasa, 2005:5).Rasa atau pengalaman estetik ini diakibatkan kemampuan seniman menyublimasi "bhawa" (emosi) dari tataran psikologi ke tataran estetik.
Demikian yang dapat saya sampaikan, bila ada tutur ksta yang tak berkenan saya minta maap yang sebesar-besarnya.

Astungkara
Rabu, 2-8-2017. Pk.06.02.
Inyomanmurtana

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tuhan dan Dosa

Karena itu, hubungan erat antara manusia dan alam akan menyebabkan keadaan batin manusia tercermin dalam tatanan eksternal. Dan hakekat diri manusia itu adalah mulut hidup dan nafasnya alam. Namun, bila tidak ada lagi pelaku kebajikan dan orang suci, alam akan kehilangan cahaya yang meneranginya dan udara yang menghidupinya. Ini menjelaskan mengapa ketika keadaan batin manusia telah berpaling pada kegelapan dan kekacauan, alam juga berpaling dari harmoni dan keindahan, selanjutnya jatuh dalam ketidakseimbangan dan kekacauan. Yang berujung pada kehancuran dan kebinasaan dalam sekala yang besar. Murtana

Dalang

Dalang  dalam dunia pewayangan diartikan sebagai seseorang yang mempunyai keahlian khusus memainkan boneka wayang (ndalang). Keahlian ini biasanya diperoleh dari bakat turun - temurun dari leluhurnya. Seorang anak  dalang  akan bisa mendalang tanpa belajar secara formal

SENI MASYARAKAT

SENI MASYARAKAT       SENI tidak dapat dipisahkan dengan masyarakat. Seni bahkan berasal dari masyarakat. Masyarakat hadir untuk seni, dan seni hadir untuk masyarakat. Masyarakat dan seni saling bersinergi.       Masyarakat tidak diciptakan untuk masyarakat, tapi seniman untuk masyarakat. Seni berguna untuk membantu perkembangan kesadaran manusia dan membantu memajukan sistem sosial. Semua kegiatan manusia mengabdi pada kemanusiaan. Jika tidak pekerjaan seni itu akan sia-sia dan menjadi keisengan belaka (Plekanov, 2006:1). Lebih lanjut dikatakan Plekanov, bahwa seni harus mengabdi pada tujuan yang berguna, bukan kesenangan yang tidak berfaedah.        Chersnyshevsky mengatakan, bahwa nilai semua seni, terutama seni yang paling serius di antaranya persajakan, dibangun oleh sejumlah pengetahuan yang disebarkan pada masyarakat.  Seni menyebarkan sejumlah besar pengetahuan di kalangan massa pembaca.  Lebih p...