KEUTUHAN BUDAYA
BUDAYA Nusantara di masa lalu terlihat utuh, karena tidak banyak
bersentuhan dengan budaya barat yang didominasi oleh rasionalitas ilmu
pengetahuan. Keunggulan barat dalam menata ilmu pengetahuan perlu
mendapat apresiasi bagi kalangan pengemban budaya tradisi Nusantara,
karena dengan ilmu pengetahuan hidup menjadi lebih tertata. Tatanan
sosial menjadi lebih rasional dan tatanan budaya semakin berkembang
nilai fungsi sekularitas tanpa mengurangi nilai sakralitas. Tidak pula
dapat ditampik, bahwa berkat perkembangan ilmu pengatahuan kostruksi
sosial dan budaya banyak yang melahirkan spesialisasi ke arah perbaikan
kualitas budaya yang semakin prima, akibat penyediaan sarana prasarana
yang memadai.
Perkembangan ilmu pengetahuan
memang pesat, tapi perkembangan kualitas budaya semakin hari kian
kritis. Ambil saja contoh kasus di bidang pertunjukan wayang. Dalang
semakin berkurang aktivitas kemasyarakatan, karena sebagian telah
direbut oleh profesi lain. Misalnya profesi sebagal pelawak telah
mendominasi aktifitas kegiatan sosial budaya, baik dalam acara program
televisi maupun kegiatan masyarakat. Kini lawak dan peran-peran yang kocak dinilai lebih mampu
menghibur, karena masyarakat butuh dihibur. Sesuatu yang serius seperti nilai-nilai spiritual, nilai-nilai moral, dan norma sosial tidak mendapat perhatian bahkan dikesampingkan. oleh karena itu, banyak profesi dalam budaya pertunjukan dan pertunjukan budaya mengambil metode dan konten
lawakan untuk menyampaikan pesan-pesan etika sosial, termasuk dalang dan
profesi lain misalnya penutur sosialasi nilai-nilai agama. Kalau
dalang dan profesi-profesi tersebut tidak melawak, maka akan kehilangan daya tarik, artinya kehilangan kesempatan. Kesempatan bisa dimaknai pendapatan. Akhirnya dalang
juga melawak. Kalau dalang tidak melawak, apa yang bisa
disuguhkan kepada masyarakat? Otomatis tinggal pertunjukan visual. Bahasa visual harus menarik. Daya tariknya berkurang mungkin karena dominan bahasa dan sastera yang dinilai sudah usang. Sangat tepat keputusan yang diambil oleh Ki Haji Mantep Sudarsono dan Dr.
Bambang Suwarno 30-an tahun yang lalu yang mengembangkan gerak-gerak tematis pertunjukan wayang yang kini
dapat diwariskan kepada generasi muda dalang (mahasiswa Juruasan Pedalangan). Di bidang bahasa dan sastera pertunukan wayang juga
sudah dinilai kuna oleh sebagian masyarakat dan tidak relevan dengan
kehidupan budaya modern. Akan tetapi para dalang menyediakan cetak biru untuk pelestarian bahasa dan sastera pedalangan. Memang jaman sudah jauh berubah. Beruntung masih ada upacara "sadranan, bersih desa, labuh laut, ulang tahun partai pilitik, lembaga pemerintah dan suasta". Masyarakat secara
perorangan tidak mampu lagi menanggap pertunjukan wayang, karena
upahnya pertunjukan wayang sampai ratusan juta rupiah. Jika dibagi dengan anggota grup yang jumahnya sekitar 30-an orang, maka upah sertus juta tergolong kececil, karena seorang dalang harus menyediakan peralatan sendiri yang nilainya lebih dari ratusan juta rupiah.
Bersyukur
ekonomi masyarakat meningkat, karena banyak profesi yang sudah mampu mendapat penghasilan lebih dari cukup. Akan tetapi belum sejahtera, sehingga lebih banyak penghasilannya untuk
kepentingan konsumtif yang lain, bukan nanggap wayang. Namun demikian harapan
masyarakat untuk menjadi dalang dan pertunjukan wayang masih ada. Dengan demikian Jurusan Pedalangan Institut
Seni Indonesia (ISI Surakarta, ISI Yogyakarta, dan ISI Denpasar) masih diminati calon-calon mahasiswa baru untuk menjadi dalang. Di masa depan mereka akan menjadi pewaris-pewaris pewayangan dan pelestari-pelestari dunia langka. Untuk itu, penyesuaian dinamika
kurikulum masih dibutuhkan untuk mengantisipasi perkembangan jaman dengan laju
perubahan sosial yang serba cepat.
Astungkara
Senin, 31-7-2017 pk.06.39.
I nyoman mutrana
Komentar
Posting Komentar